Herpes Simpleks, Si Lenting yang Kambuhan dan Menular

  • 26 Desember 2013
  • 14:09 WITA
  • Ragam

YANG namanya penyakit pasti menyebabkan ketidaknyamanan, apalagi jika bersifat kambuhan. Salah satu contoh yang sering dijumpai di masyarakat adalah infeksi Virus Herpes Simpleks (VHS), yang ditandai dengan lenting-lenting (vesikel) berkelompok di atas kulit yang kemerahan. Penyakit ini seringkali menurukan kualitas hidup penderitanya karena bersifat kambuhan dan menular. Walaupun kebanyakan penderita yang terinfeksi VHS tidak mengalami gejala, tetapi mereka tetap dapat menyebarkan virus.

Terdapat dua tipe VHS yaitu tipe 1 yang banyak berhubungan dengan penyakit pada rongga mulut dan wajah dan VHS tipe 2 yang berhubungan dengan infeksi genital. VHS termasuk dalam satu subfamily α-Herpesvirus dengan virus Varicella-Zoster, virus yang menyebabkan varicella (cacar air) dan herpes zoster (tilas).

Infeksi VHS dibagi menjadi 3 tingkat yaitu infeksi primer, laten dan infeksi rekurens (kambuh). Selama infeksi primer (infeksi yang pertama kali), virus mengalami replikasi pada tempat yang terinfeksi. Tempat yang sering terinfeksi VHS tipe 1 adalah di daerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak-anak. Penderita bisa terkena karena secara kebetulan kontak kulit dengan penderita lain atau petugas medis. Sedangkan, tempat yang sering terinfeksi VHS tipe 2 adalah daerah pinggang ke bawah terutama di daerah kelamin. VHS tipe 2 ini biasanya menular melalui hubungan seksual.

Infeksi primer berlangsung lebih lama sekitar tiga minggu dan lebih berat. Sering disertai dengan gejala demam, lemas, tidak nafsu makan dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening. Kelainan pada kulit atau kelamin berupa lenting-lenting berkelompok di atas kulit kemerahan, berisi cairan jernih yang dapat mengering, kadang menjadi luka yang dangkal dan biasanya sembuh tanpa bekas.

Pada fase laten, penderita tidak mengalami gejala klinis, tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion saraf seumur hidup.

Infeksi rekurens (kambuhan) berarti VHS pada ganglion saraf yang dalam keadaan tidak aktif, dengan mekanisme pacu menjadi aktif dan mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. Mekanisme pacu itu dapat berupa trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosional, menstruasi), dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang. Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7 sampai 10 hari. Sering timbul gejala lokal sebelum timbul lenting-lenting berupa panas, gatal, dan nyeri. Infeksi yang kambuh ini bisa timbul pada tempat yang sama atau tempat lain di sekitarnya.

Bila pada kehamilan timbul herpes genitalis, perlu mendapat perhatian yang serius, karena virus dapat sampai ke sirkulasi janin melalui tali pusar, serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian pada janin. Bila transmisi terjadi pada awal kehamilan cenderung terjadi keguguran, sedangkan bila pada pertengahan kehamilan bisa terjadi kelahiran prematur. Selain itu dapat terjadi penularan pada saat melahirkan.

Pada kebanyakan kasus, riwayat dan penemuan klinis sudah cukup untuk menegakkan diagnosis, tetapi jika memungkinkan bisa dilakukan penegakan diagnosis dengan pemeriksaan laboratorium. Virus herpes ini dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Pada keadaan tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi VHS.

Sebagian besar kasus tidak membutuhkan terapi spesifik. Yang harus dilakukan adalah menjaga lesi tetap bersih dan kering hingga menyembuh dengan sendirinya. Terapi dibutuhkan untuk infeksi yang berkepanjangan, gejalanya berat atau mengalami komplikasi. Obat yang dipakai adalah antivirus, contohnya asiklovir, yang cara kerjanya mengganggu replikasi DNA virus. 

Strategi untuk mencegah infeksi VHS tidak cukup terbukti terhadap pertumbuhan epidemik herpes. Apalagi penderita yang tidak menunjukkan gejala juga dapat menyebarkan virus. Infeksi herpes genital dapat dicegah dengan tidak melakukan hubungan seksual atau  menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Usaha yang lain adalah dengan terapi antivirus. Untuk mencegah kekambuhan dapat dilakukan macam-macam usaha dengan tujuan meningkatkan imunitas selular dan menghindari mekanisme pacu yang telah disebutkan di atas. (***)

 

Oleh : dr. Desak Nyoman Trisepti Utami, S.Ked

 

Komentar