Berhentilah Berpolemik Tari Rejang Renteng

Nopember 2017 lalu, serangkaian upacara di Pura Penataran Agung Catur Parahyangan Ratu Pasek di Banjar Punduk Dawa, Klungkung, kami diminta ibu Eka Wiryastuti untuk membantu menyiapkan sarana yang diperlukan, karena beliau bersama ibu-ibu lainnya akan mempersembahkan tarian Rejang Renteng. Kamipun mengabadikan momen itu di medsos Facebook dan Youtube. Sungguh di luar dugaan, dalam sehari ribuan mata menontonnya. 

Inti yang mau saya sampaikan mari lihat sisi positif dari tari Rejang Renteng tersebut. Hal ini sejalan dengan niat baik pemerintah yang belakangan sering mengambil langkah dalam pelestarian seni dan budaya, yang semula dianggap sakral dan kemudian hampir punah.

Konon, Rejang Renteng sendiri hampir mengalami kepunahan. Syukurlah, pada tahun sembilan puluhan, Tim Kesenian dari Provinsi Bali berhasil merekonstruksi tarian tersebut, sehingga terhindar dari kepunahan. Tarian yang tidak diketahui secara pasti kapan tari Rejang Renteng itu ada, dan siapa penciptanya, kini menjadi tren di masyarakat baik di perkotaan maupun dipedesaan.

Meminjam pendapat Profesor Bandem tentang pentingnya tari bagi masyarakat Hindu Bali, masyarakat Bali dalam memaknai tari dari dua sudut pandang, yakni dapat difungsikan untuk mendekatkan umat dengan sang pencipta dan sebagai tali pengikat atau mempererat kehidupan bermasyarakat.

Demikian halnya pada materi penyuluhan Parisada Hindu Dharma Indonesia  tentang Tari-tarian Bali dalam Upacara Agama Hindu disebutkan keterkaitan agama Hindu dengan kesenian. Agama Hindu merupakan agama yang mempunyai unsur ritual, emosional, kepercayaan dan rasional. Dari unsur tersebut menyebabkan hampir tidak ada suatu upacara keagamaan yang sempurna tanpa ikut serta pertunjukan kesenian khususnya tari Bali.

Polemik negatif yang berulang cenderung tidak produktif. Saat ini, jagat raya ini sangat sempit, yang kita sebut sebagai dunia global. Mari maknai ungkapan think globally act locally (berpikir secara global bertindak secara lokal) sebagai langkah pemberdayaan terhadap kesenian kita, karena kita harus mau mengakui, industri pariwisata masih menjadi primadona Bali. Tentunya, itu tidak terlepas dari seni budaya Bali. Mari berfikir positif dengan berhenti berpolemik kontra produktif.  Swaha. (Batuaji, 20 Juni 2018)

Komentar