Karya Agung Kahyangan Dalem Prabu Desa Pekraman Beraban Dialokasikan 25 Milyar

KEDIRI - Dalam aktualisasi konsep Tri Hita Karana, kata kuncinya adalah adanya keseimbangan pembangunan lahir dan batin. Demikian dikatakan I Made Sumawa, Bendesa Desa Pekraman Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, Senin (25/6/2018), saat ditemui Jaya Pos di sela-sela persiapan pementasan kolosal tari Rejang Renteng di Jaba Kahyangan Dalem Prabu Beraban.

Dipaparkan, Karya agung Mamungkah Ngenteg Linggih yang puncaknya dilaksanakan Jumat (29/6/2018) melalui proses panjang. “Sekitar 10 tahun kami mempersiapkannya” Kata Sumawa.

Dimulai dengan perencanaan di sisi fisik di areal tanah laba Kahyangan Dalem Prabu sekitar 2,5 hektar. Pembangunan fisik mencakup jalan keliling areal, fasilitas joging, pemeliharaan lapangan, pembangunan wantilan dan sebagainya. Sementara di wilayah kahyangan, dibangun Bale Kulkul, Pelinggih, Candi Bentar, Penyengker, Pelingguh utama dan sebagainya. “Biaya mencapai 25 Milyar lebih termasuk biaya upakara” Tandas Jero Bendesa.

Dalam rangakaian karya agung ini, Sumawa mengaku terharu dan mengucapkan terimakasih kepada seluruh krama Desa Beraban yang jumlahnya sekitar sepuluh ribu jiwa, karena secara tulus mendukung sepenuhnya pelaksanaan karya tersebut. “Semangat ngayah dengan ikhlas adalah hal yang amat penting sehingga semua prosesi berjalan dengan baik” Pungkasnya.

Dia berharap, sradha bhakti krama Beraban ini mendapat anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dimana krama bisa hidup dengan damai, sejahtera lahir dan batin.

Semangat krama Desa Pekraman Beraban mendapat apresiasi dari Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti. Selaku Guru Wisesa, Eka hadir menyaksikan upacara tersebut sekaligus mengikuti persembahyangan. Bupati Eka mengaku bangga dengan semangat warganya di Desa Pekraman Beraban. “Saya apresiasi penuh. Tetap jaga kebersamaan dalam komunikasi yang dalam, karena menjaga jauh keharmonisan jauh lebih sulit. Kedepan hendaknya semangat ini menjadi motivasi dalam membangun desa yang lebih baik” Kata bupati.

Ditanya tentang pentas 500 ibu-ibu menarikan Rejang Renteng, Bupati Eka menyatakan kekagumannya. “Sejak saya menginjakkan kaki di sini, aura sudah terasa beda, metaksu membawa energi yang luar biasa. Demikian juga dari sisi seni dan estetika, luar biasa. Mereka menari dengan penuh senyum dan sempurna dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekala, saya yakin niskala juga senang menyaksikannya” Pungkasnya.

Seperti di tempat lainnya, kehadiran Srikandi Tabanan ini selalu menjadi rebuta warga untuk ber selfi ria. Ratusan warga bergiliran untuk mendapat kesempatan foto bersama dengan bupatinya, yang adalah bupati perempuan pertama di Bali. Bupati Eka dengan sabar tanpa lelah, memenuhi permintaan warganya. (*/Adv/Boss)

 

Komentar