Akan Terwujudkah Pedestrian Sagung Wah ?

PENATAAN KOTA TABANAN nampaknya akan terus berlanjut. Salah satunya yang sedang intensif direncanakan mewujudkan Pedestrian Sagung Wah. Di sekitar lokasi itu, tepatnya di barat pasar Tabanan, saat ini sudah selesai dibangun wantilan, patung gajah dan dihiasi kerlap-kerlip lampu aneka warna memancar dari 10 pohon kelapa sawit di sisi timur. Jalanpun di paving, trotoar juga terbilang bagus. Namun karena areal tersebut juga masih digunakan areal parkir sehingga cukup mengganggu keasriannya. Menurut Wakil Bupati Tabanan Komang Gede Sanjaya  terwujudnya pedestrian itu dengan merelokasi pasar senggol dan membebaskan dari parkir. “Kita masih menunggu kesiapan pembangunan sarana prasarana di Terminal Pesiapan” Jelasnya beberapa waktu lalu.  Menurutnya, Pedestrian Sagung Wah tersebut sebagai bagian dari penataan taman kota.

Sampai disana rupanya pedestrian itu menjadi kebutuhan karena akan memberi ruang yang nyaman bagi para pejalan kaki menuju taman kota. Rencananya, taman kota warisan Bupati Adi Wiryatama yang dicap kaku dan tidak ramah lingkungan itu akan diberangus, disulap menjadi Taman Ketut Marya berintegrasi dengan Museum Sagung Wah. Demikian juga Gedung Kesenian Ketut Marya akan dilebur menjadi satu terintegrasi sebagai pusat kota “Singhasana”, ibukota Kabupaten Tabanan. Jika tiada aral melintang, sebelum masa jabatan pertama pasangan Eka Jaya ini berakhir, ada perkembangan signifikan yang selesai dibangun.

Mewujudkan tata kota yang cukup wah itu dipastikan akan mendapat beragam reaksi. Jangankan program pembangunan sebesar itu, membangun patung Bung Karno saja, membuat pimpinan daerah jadi bulan-bulanan warganya yang mengaku menjaga Ajeg Bali. Dalam hal ini, mau tidak mau, suka tidak suka, Bupati Ni Putu Eka Wiryastuti dan Wakilnya I Komang Gede Sanjaya tidak mengulangi kekeliruan sebelumnya yang dituding kurang sosialisasi, kurang komunikasi atau tidak berpihak pada budaya Bali serta berbagai tudingan miring lainnya.

Berbicara Pedestrian Sagung Wah saja dipastikan akan menemukan berbagai kendala. Pedestrian yang secara umum disebut sebagai fasilitas bagi orang berjalan kaki baik menuju pasar maupun taman kota tentu akan mengorbankan pasar senggol dan kebutuhan areal parkir yang memadai. Wacana pemindahan pasar senggol sesungguhnya sudah pernah diangkat ketika Tabanan gagal meraih Adipura tahun 2011 lalu. Namun wacana itu hilang pelan-pelan. Saat itu pemerintah berdalih karena pertimbangan ekonomi masyarakat sehingga rencana itupun ditunda. “Sudah jadi resiko kami. 'Kalau kami hanya memikirkan Adipura, pedagang pasar akan menjerit. Lebih baik kita pikirkan solusinya untuk melakukan relokasi,'' Jelas Wabup Sanajaya kala itu.

Meskipun semrawutnya Senggol di jalan Gajah Mada itu kerap menjadi sorotan publik, namun rupanya diperlukan tenaga ekstra untuk memberikan pemahaman kepada warga senggol yang menyatakan diri tidak mau dijadikan kambing hitam kekumuhan kota. Bahkan koordinator pedagang senggol Gede Kayan Tirta atau yang lebih dikenal dengan Yan Buduh berkata tegas agar keberadaan pasar senggol jangan diusik. “Kami siap mendukung kebersihan kota tapi tolong jangan pernah berpikir mengusik keberadaan kami” Katanya.

Nah, gelombang penolakan pasti terjadi, baik yang murni karena menyangkut maslah isi perut atau penolakan yang mendompleng kepentingan tertentu. Lantas, berhasilkah Pedestrian Sagung Wah menjadi kawasan taman kota terpadu? Atau anda memiliki pandangan konstruktif? Mari kita tunggu jawabannya, mudah-mudahan sebelum 2015. (Putu Adnya Semapta)

Komentar