Masihkah Tabanan Peduli Sampah Plastik?

Sejak 2013, Tabanan mensosialisasikan Gerakan Masyarakat Mandiri Peduli Sampah (Gema Ripah). Gerakan penyadaran bahwa sampah memiliki nilai ekonomis. Kala itu Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) menggaungkan berdirinya Bank Sampah, sebagai wadah pengelola persampahan, merangkul semua komponen, termasuk pihak swasta Enviro Pallets yang membeli semua jenis sampah plastik. Enviro Pallets adalah perusahaan asing yang berlokasi di Desa Banjar Anyar Kediri, yang memproduksi palet dari bahan sampah plastik.

Dalam perkembangannya, karena ada keberatan dari oknum warga sekitar, Enviro Pallets hengkang dari Tabanan dan kini membangun pabriknya di Pasuruan, Jatim. Tentu saja ini masalah besar, karena Bank Sampah yang selama ini sudah membeli sampah plastik nasabahnya, tidak tahu mau menjual kemana. Kalau harus dijual ke pengepul pemulung, harganya tidak sesuai. Enviro Pallets bisa membeli dengan harga 500 – 3.000 rupiah per kilogramnya, namun di pemulung hanya dihargai mulai 200 rupiah.

Dinas Lingkungan Hidup yang kini juga membidangi persampahan, justru lamban menyikapi, bahkan terkesan cuek. Ketika Jaya Pos menanyakan masalah sampah plastik ini kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Raka Iswara, Selasa (18/4/2017), ia mengarahkan untuk koordinasi dengan stafnya Made Ayu Wikarmini, yang juga melempar masalah sampah plastik ini ke bawahannya.

Sampah plastik telah menjadi isu nasional bahkan isu dunia. Karenanya, Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mengajak para perbekel untuk mendirikan Bank Sampah, minimal 1 di wilayahnya. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu solusi mengatasi sampah plastik sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. “Sampah jadi berkah” Ujar bupati suatu ketika.

Ajakan bupati ini sebagai wujud kepedulian pemerintah, sebagai komitmen peduli lingkungan. Sampah plastik disadari berdampak buruk pada lingkungan, pada pertanian, termasuk berdampak sangat buruk di dunia pariwisata.

Sejatinya isu sampah plastik ini mulai direspon masyarakat, namun lambannya dinas terkait dalam mencari terobosan menjadikan masalah ini seperti tak berujung. Padahal jika tahu bagaimana mengelola serta mengolahnya dan mendaur ulang dengan benar maka sampah plastik pastinya akan memberikan manfaat buat masyarakat. Dan justru menjadi ramah lingkungan.

Menuntut kesadaran masyarakat saja belumlah cukup dan itu tidak adil. Pemerintah mesti terlibat dan sigap. Jika pabrik sebesar Enviro Pallets “dipaksa” pindah oleh oknum tertentu, maka sudah menjadi kewajiban pemerintahlah mencari solusi. Jangan membiasakan mengumbar kata “Peduli” hanya sebagai jargon. (Putu Adnya Semapta)

Komentar