Lima Ribuan Krama Bali Daftarkan Diri Ikut Sapuh Leger dan Mebayuh Oton Massal

TABANAN – Program “Meyadnya” yang digagas Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti mendapat sambutan krama. Seperti halnya upacara Sapuh Leger dan Mebayuh Oton Massal yang akan digelar pada Jumat (28/7/217) di pelataran Jaba Mandala Pura Luhur Pakendungan, Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan. Animo krama demikian tinggi, bukan saja dari Tabanan, namun krama yang mendaftar berasal dari seluruh kabupaten/Kota di Bali.

“Saat ini sudah terdaftar 5.700 an peserta” Ujar Assisten I Sekda Tabanan, Wayan Yatna Nadi, usai memimpin rapat evaluasi kegiatan tersebut, Kamis (20/7/2017).

Mendengar hal itu Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti mengaku terharu sekaligus bangga karena kesadaran krama Bali dalam menjalankan swadharma agama demikian besar. Menurut srikandi yang rutin “ngayah” seantero jagat Bali itu, tingginya animo krama Bali mengikuti upacara Sapuh Leger dan Mebayuh Oton itu patut diberikan apresasi. “Ini adalah ngayah yang nyata, tanpa mengharapkan hasil, namun tulus dilandasi sikap bathin yang teguh pada ajaran Hindu” Ujarnya kepada Jaya Pos, Sabtu (22/7/2017).

Kata Eka, budaya Hindu pada hakekatnya berpegang pada suatu rumusan filosofis dimana kerja sebagai ibadah dan ibadah dalam kerja. “Istilah kerennya ora et labora, bekerja dan berdoa, yang merupakan representasi kerja dari bhakta kepada Dewata” terangnya. Bupati yang telah mampu mengangkat Tabanan sejajar dengan kabupaten lainnya di Indonesia mengajak agar konsep ngayah itu menjadi bagian keseharian dalam melakoni kehidupan.

Ngayah itu kerja nyata untuk tetap menjaga kebudayaan dan tradisi yang ada di Bali. Kearifan lokal yang diturunkan oleh leluhur secara turun-temurun sebagai bentuk srada bakti umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dilakukan secara bergotong royong tulus iklas tanpa mengharapkan suatu imbalan apapun.

“Jika konsep ngayah dilakukan dengan sungguh-sungguh tentu Tuhan telah menghitung semua yang kita lakukan dengan dasar lascarya” Pungkasnya. (***)

Komentar