Desa Pekraman Kediri Menggelar Parade Tektekan

KEDIRI - Untuk keempat kalinya Desa Pekraman Kediri kembali menggelar atraksi budaya berupa Parade Tektekan Nangluk Merana,  dibuka Sabtu (25/3/2017) okeh Ketua DPRD Kabupaten Tabanan, I Ketut Suryadi.

Bendesa Adat Desa Pekraman Kediri sekaligus Ketua Panitia Parade Tektekan-Nangluk Merana, Anak Agung Ngurah Gede Panji Wisnu menjelaskan bahwa tradisi Tektekan telah mengakar dan diwarisi secara turun-temurun oleh masyarakat setempat. Sekalipun sejarahnya tidak tertanggal dan hanya berdasarkan cerita para tetua.

Menurutnya, tradisi tektekan di Desa Pekraman Kediri sudah ada sejak lama dan diwarisi secara turun temurun, meskipun secara tertulis sejarah kemunculannya tidak tercatat sama sekali.

 “Tapi secara tersirat dan berdasarkan keterangan para orang tua kami, tradisi ini muncul bersamaan dari gerubug atau wabah yang terjadi di Kediri. Konon, saat itu warga banyak mengalami sakit, ada yang meninggal. Sementara hasil tani gagal karena diserang hama,” tuturnya.

 Untuk mengatasinya, para tokoh masyarakat dan pemangku pada saat itu sepakat untuk memohon petunjuk dengan melakukan persembahyangan di Pura Puseh yang ada di desa pekraman setempat.

 “Di situ para tetua kami mendapatkan petunjuk bahwa kondisi gerubug tersebut hanya bisa dihilangkan dengan bunyi-bunyian. Sejak saat itu masyarakat Kediri turun keliling desa untuk melakukan tektekan. Dan, setelah beberapa hari dilaksanakan ada keajaiban segala wabah hilang,” imbuhnya.

 Karena itu, sambungnya, tradisi tektekan di Kediri memiliki fungsi niskala yakni untuk mengatasai nangluk merana. Dan, pelaksanaannya tidak bisa diprediksi karena bergantung pada ada atau tidaknya wabah atau kemalangan di wilayah Desa Pekraman Kediri.

 Meski demikian, sambungnya, tektekan ini juga memiliki fungsi sekala yakni fungsi hiburan dalam bentuk seni tabuh dan seni tari. Karena itu, sejak 2014 lalu kami di Desa Pekraman Kediri sepakat untuk mengadakannya sebagai kegiatan rutin tahunan.

 “Khususnya menjelang hari raya Nyepi. Bila di tempat lain, kegiatan Nyepi disambut dengan pembuatan dan parade ogoh-ogoh atau keplug-keplugan, di Kediri kami sepakat meniadakan itu dan menggantinya dengan tektekan,” tandasnya.

Dalam sambutannya, I Ketut Suryadi menegaskan komitmennya untuk mendukung kegiatan budaya yang diselenggarakan Desa Pekraman Kediri. Ia juga meminta dia meminta Dinas Kebudayan untuk memasukkan Parade Tektekan-Nangluk Merana sebagai kalender event kebudayaan di tingkat kabupaten. Sehingga, pelaksanaannya bisa berlangsung dari tahun ke tahun. (humastabanan)

Komentar